Berpedoman
pada sangat pentingnya pelaksanaan Assessment bagi efektivitas
pembelajaran di kelas, terdapat beberapa bentuk Assessment yang
dilaksanakan sesuai dengan tujuan utama pelaksanaannya. Bentuk-bentuk Assessment
tersebut yaitu Assessment yang dilakukan diawal proses pembelajaran (pre-assessment),
Assessment selama proses pembelajaran berlangsung (During Assessment)
dan Assessment yang dilaksanakan diakhir pembelajaran (Post Assessment).
Ketiga bentuk Assessment tersebut masing-masing memiliki tujuan yang
sangat penting dan saling melengkapi satu sama lain. Namun pada pembahasan kali
ini, kita akan berfokus pada tujuan preassessment dan persiapan guru
dalam melaksanakan pembelajaran setelah melaksanakan pre-assessment.
Proses penilaian yang dilakukan diawal
pembelajaran sebuah materi atau yang sering dikenal dengan pre-assessment,
memiliki tujuan yang sangat penting bagi kelancaran dan efektivitas proses
pembelajaran di kelas. Seperti apa yang diinformasikan oleh Federick County
Public Schools dalam websites-nya, tujuan dari pre-assessment yakni
untuk membantu guru dalam menentukan rencana pembelajaran yang ditujukan untuk
menghadapi kesiapan siswa yang beragam. Diharapkan hasil dari pre-assessment
dapat memberikan gambaran kepada guru mengenai kesiapan siswa dalam menjalani
proses pembelajaran, baik tentang prior knowledge siswa ataupun tentang
kemungkinan-kemungkinan masalah yang akan dihadapi oleh siswa dalam mempelajari
topik tertentu.
Melalui
pre-assessment, guru dapat mengetahui tingkat pemahaman dan harapan
siswa sebelum menjalani proses pembelajaran. Hal ini dapat membantu guru dalam
menentukan materi pembelajaran mana yang masih perlu dperkuat atau bahkan
materi pembelajaran mana yang sudah sangat dipahami siswa sehingga tidak perlu
dijelaskan ulang. Itu berarti pre-assessment membantu guru untuk
memanfaatkan waktu pembelajaran secara maksimal karena guru dapat menghindari
pengulangan pembahasan materi yang sudah siswa kuasai.
Guru
dapat memanfaatkan pre-assessment sebagai bahan untuk mencari tahu gaya
belajar dan ketertarikan siswa terhadap sebuah materi. Hal ini memudahkan guru
dalam menentukan alternatif pemecahan masalah yang harus dilakukan untuk
menangani kemungkinan-kemungkinan masalah yang akan dihadapi. Sebagai contoh,
guru dapat membentuk grup belajar yang terdiri dari berbagai siswa yang
memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Grup belajar ini ditujukan untuk
memfasilitasi siswa-siswa dalam berdiskusi dan bekerjasama dalam memahami
materi pelajaran. Hasil pre-assessment dapat dijadikan bahan pertimbangan
oleh guru dalam menentukan pembentukan grup belajar tersebut untuk
mengoptimalkan pelaksanaan diskusi kelompok. Selain itu, dengan mengetahui gaya
belajar siswa guru dapat membuat perencanaan desain pembelajaran yang jauh
lebih menarik, relevan namun juga mampu memfasilitasi siswa dalam mencapai
tujuan pembelajaran.
Sumber :
fcpsteach.org/docs/pre-assessment.pdf
fcpsteach.org/docs/pre-assessment.pdf